KONTRIBUSIKU

nasionalisme

“DI MANA POSISI KITA?”

Negara. Kata ‘negara’ semestinya sudah sangat akrab di telinga kita. Kita pun secara sadar mengerti maksud dari kata ini. Namun, di sini penulis mencoba untuk menjabarkan secara nyata arti dari kata tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘negara’ memiliki 2 arti yang hampir sama, yaitu “organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat” dan “kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya: kepentingan — lebih penting daripada kepentingan perseorangan“.

Dari 2 arti di atas, dapat disimpulkan bahwa negara adalah kelompok sosial terstruktur yang menduduki dan memiliki hak atas wilayah tempatnya berada, serta memiliki hak untuk memilih/membentuk sistem sosial-ekonomi-politik. Artinya, segala bentuk pengolahan sumber daya alam dan sumber daya manusia, kesejahteraan masyarakat, kemajuan teknologi, kemajuan pendidikan, dan lain lain di suatu wilayah sepenuhnya bergantung pada kelompok sosial tersebut.

Dari fakta bahwa Indonesia memiliki kelompok sosial seperti kriteria di atas dan juga memiliki wilayah, maka Indonesia memenuhi kriteria sebagai negara. Sepele memang, namun di sini penulis mencoba untuk mengajak berpikir mengenai negara dengan lebih nyata. Lalu, sampai di sini pertanyaan besar muncul, di mana posisi kita saat ini dari kelompok sosial itu?

Baik, mari kita perjelas bahwa saat ini kita adalah seorang pemuda. Jika dipandang sekilas, posisi kita hanyalah seorang rakyat yang diatur hak dan kewajibannya oleh negara. Namun, lebih dari itu kita berada di posisi yang berkesempatan untuk membawa perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Pembawa harapan menuju negara sejahtera. Sadarkah kita?

 

PERAN PEMUDA YANG SEMESTINYA

image10
Cover buku “Generasi Muda dan Perubahan” karangan Fathi Yakan

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” -Ir. Soekarno

Sebagian dari kita atau kita semua mungkin sudah sangat familiar dengan ungkapan di atas. Kalimat penyemangat yang ditujukan untuk pemuda-pemudi Indonesia dari sosok yang luar biasa, Ir. Soekarno. Ya, begitulah gambaran bagaimana beliau sangat menghargai peran pemuda bagi kesejahteraan negara.

Sebagai pemuda dari sebuah negara, sudah sepantasnya bagi kita untuk memikirkan bagaimana kontribusi kita untuk memajukan kehidupan masyarakat di negara kita. Kenapa harus pemuda? Karena pemuda itu memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi ideologis dan cerdas. Ya, pemuda hanya memiliki peluang yang lebih besar, namun peluang inilah yang nantinya pasti membawa sebuah negara menuju kejayaan. Penulis bisa berpendapat seperti itu karena jika pemuda mengambil peluang emas ini, seharusnya pemuda bisa memiliki keberanian yang cukup untuk menyuarakan kebenaran, memiliki kekuatan yang cukup untuk membersihkan kesalahan, dan memiliki kemampuan yang cukup untuk membawa perbaikan.

Jika kita menilik sedikit peran pemuda dalam sejarah, baik dalam negeri maupun luar negeri, tentu kita akan sadar betapa hebatnya potensi sebenarnya yang ada pada diri kita, pemuda. Sebagai contoh, kita bisa tengok kembali bagaimana heroiknya para pemuda pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, keberanian para pemuda untuk ‘menculik’ para ‘orang tua’ ke Rengasdengklok pada detik -detik proklamasi, dan keberanian untuk menggulingkan masa orde baru pada tahun 1998, atau organisasi-organisasi pemuda yang aktif dalam berusaha menyebarkan perdamaian.

Pada dasarnya, pemuda adalah sosok yang suka berpikir tentang keadaan ideal dalam segala hal. Pemikiran idealis seorang pemuda juga selalu dibarengi oleh usaha yang nyata. Kelebihan inilah yang bisa menjadi senjata terhebat dari seorang pemuda. Sudahkah kita berperan seperti yang seharusnya?

 

MENJEMPUT PERAN KITA

f201405162258466Tidak perlu malu untuk berpikir politis. Salah satu kelemahan kita sebagai pemuda dalam lingkungan bermasyarakat adalah enggannya kita untuk berpikir politis. Rendahnya minat pemuda tentang hal-hal politis bisa saja diakibatkan dengan latar belakang pendidikan yang tidak selalu berkaitan dengan pengetahuan sosial.

Namun, terlepas dari latar belakang pendidikan, sebagai pemuda kita mengemban kewajiban penting untuk memajukan kehidupan masyarakat. Hal inilah yang harus kita sadari. Jika penulis bisa memberikan julukan, maka pemuda adalah “rakyat yang sanggup bersuara lantang”. Maka dari itu, kitalah rakyat yang bisa mendengungkan suara-suara dari keseluruhan rakyat itu sendiri.

Sebuah negara memerlukan kritik, solusi, serta usaha nyata demi memajukan kehidupan bermasyarakat. Hal ini bisa dimulai dengan berusaha melek akan kehidupan di lingkungan sosial kita, dan melek akan keadaan politik di negara kita. Merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh kebanyakan rakyat. Tinggalkan sikap apatis dan individualis, karena kita bukanlah sekedar calon-job-seeker yang hanya bisa mementingkan masa depan pribadi. Dengan begitu, minimal kita bisa memikirkan solusi akan masalah-masalah yang ada. Penulis bisa berpendapat begitu karena kembali lagi pada kenyataan bahwa pemudalah yang memiliki peluang besar untuk bisa menjadi idealis dan cerdas. Pemuda suka berpikir, dan mampu untuk mengaplikasikan pemikirannya. Dan pemuda mampu untuk memajukan kehidupan di negara ini.

 

-Dyah Ayu Prabandari; 155150200111155

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s