PERANG ASIMETRIS: TIDAK TAHU ATAU PURA-PURA TIDAK TAHU?

unknown-quotes-63136

Apakah sebenarnya Anda tahu, atau pura-pura tidak tahu?

Pepatah mengatakan, “Stupid is knowing the truth, seeing the truth, but still believing the lies,” yang artinya adalah “Bodoh adalah ketika mengetahui kebenaran—melihat kebenaran, tapi masih mempercayai kebohongan.” Inilah yang sekarang menjadi penyakit bagi masyarakat Indonesia. Sudah tahu salah, tapi masih saja dilakukan.

Sebenarnya siapa yang tidak pernah mendengar kejamnya perang asimetris? Metode peperangan gaya baru secara non militer, tetapi memiliki daya hancur tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer. Sebenarnya, keberadaan perang asimetris ini telah ada sejak lama, namun istilah perang ini baru naik daun melalui artikel Andrew JR Mack berjudul Why Big Nations Lose Small Wars dalam jurnal World Politics (1975). Mack menulis artikel itu untuk menjawab mengapa dari dua pihak yang memiliki kekuatan militer yang berbeda, negara besar bisa mengalah terhadap negara yang lemah. Di dalam artikelnya, Mack menjawab bahwa alasan pihak yang lemah dapat memenangkan perang adalah menurunnya kemampuan politik negara tersebut sebab banyak aksi sosial menentang perang dari dampak kemanusiaan, serta adanya faktor ekonomi lain yang membuat negara besar mundur dari perang. Hal ini membuktikan bahwa kemenangan atas perang tidak hanya ditentukan dengan faktor militer, melainkan juga dari faktor non-militer. Contohnya, warga sipil bisa menjadi faktor kemenangan dari sebuah perang, seperti halnya yang terjadi ketika perang AS dan Vietnam, dimana AS harus mundur ketika masyarakatnya menolak adanya kekerasan akibat perang.

Di era sekarang, masyarakat tak hanya menjadi faktor memenangkan sebuah peperangan, namun juga menjadi senjata dalam perang asimetris. Kasus yang sangat santer terjadi baru-baru ini adalah isu rasis, separatisme, radikalisme, pelanggaran HAM, hingga korupsi. Isu-isu inilah yang menjadi trigger perang asimetris untuk melemahkan kekuatan bangsa Indonesia—yang entah belum disadari oleh masyarakat Indonesia atau sudah disadari namun sengaja menutup mata dan telinga terhadap bahaya isu-isu ini.

Modern Keyboard With Colored Social Network Buttons.

Sebagai kendaraan perang asimetris di zaman teknologi sekarang, media massa—terutama media sosial yang sekarang sangat berpengaruh di kalangan masyarakat, menjadi senjata mutakhir dalam menggerakkan (atau memanipulasi) opini masyarakat. Tak dipungkiri, banyak dari masyarakat masih mudah disetir oleh pergerakan berita di media massa. Netizen dengan mudahnya dijadikan pelicin pergerakan oknum yang berkepentingan.

Keberadaan media massa sebagai sebuah senjata yang mutakhir dalam perang asimetris, sudah dibahas dalam sebuah forum PBB melalui Unesco. Dalam forum ini, media massa diharapkan bisa menjadi peran strategis untuk mengontrol ketimpangan dunia dengan adanya freedom of expression. Sangat disayangkan bahwa hal ini seakan-akan memuluskan peran media massa sebagai peledak dalam isu-isu yang ada.

Kembali ke masyarakat Indonesia yang masih sering terbawa arus isu-isu di media massa, perlu adanya penjelasan terhadap masyarakat untuk mengawal penggunaan media massa (terutama media sosial) sebagai salah satu hak berpendapat. Hal ini berguna untuk memberi ruang untuk bersuara namun tidak melewati batas norma-norma bernegara.

Menghadapi perang yang tidak tampak melalui teknologi ini, lagi-lagi perbaikan karakter berbangsa yang didasari oleh nilai-nilai Pancasila adalah jawabannya. Memang membangun karakter bangsa tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih masuk ke dalam berbagai lapisan masyarakat dengan pandangan terhadap ideologi Pancasila yang berbeda-beda. Namun, hal ini sudah menjadi urgensi untuk menghalau bahaya perang asimetris yang jika dalam jangka waktu tertentu tidak disadari (atau pura-pura tidak disadari), tidak diantisipasi dan tidak dicegah dapat merontokkan bangsa ini.

Perlu adanya rasa cinta terhadap ideologi Pancasila, contoh yang baik dan disegani, sehingga terbentuklah karakter berbangsa yang baik. Diharapkan dengan karakter berbangsa yang baik, masyarakat memiliki tameng yang kuat dan kontrol terhadap media massa yang baik, sehingga tidak mudah disetir oleh oknum berkepentingan sebagai salah satu aksi dalam perang asimetris. Lebih jauh lagi, ideologi Pancasila bisa diterapkan secara keseluruhan dalam semua aspek kehidupan. Dengan begitu, Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat dengan Pancasila sebagai pondasinya.

Jadi, apakah sebenarnya Anda tahu, atau pura-pura tidak tahu?

…bahwa satu kata bisa meruntuhkan satu Negara.

Batu, 13 Desember 2016
Rr. Dea Annisayanti Putri
155150200111154

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s