Perjalanan Toleransi

pancasila-dasar-negara-2

Kata toleransi pastinya bukan merupakan sebuah kata yang asing di telinga sebagian besar masyarakat di Indonesia, namun apa sebenarnya arti dari kata toleransi itu sendiri? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata toleransi adalah sifat atau sikap toleran, lalu apa itu sikap toleran? Toleran menurut KBBI diartikan bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Jadi jika digabungkan keduanya, toleransi merupakan suatu sikap yang menghargai, membiarkan, membolehkan suatu pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri, atau secara singkat dapat diartikan suatu sikap yang menghargai pendirian yang berbeda. Berdasar dari artian tersebut toleransi sendiri memiliki cakupan yang cukup luas. Jika berbicara mengenai Indonesia dan toleransi, apa yang muncul dalam pikiran ketika berbicara mengenai toleransi? Tentu saja persoalan yang berkaitan dengan SARA (Suku Agama Ras dan Antar Golongan) akan sangat dekat dengan ‘pendirian’ dalam arti toleransi tersebut.

Sedikit melihat ke masa lalu pada saat pembentukan Bangsa Indonesia itu sendiri, para founding father Indonesia membentuk negara ini dengan berlandaskan Pancasila, berisi 5 sila yang menjadi dasar bagi seluruh pelaksanaan pemerintahan di Indonesia. Jika melihat perjalanan salah satu sila tersebut, yaitu sila pertama, bunyi dari sila tersebut pada saat awal pembentukannya bukanlah seperti yang diketahui sekarang melainkan berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Lantas apa yang menyebabkan bunyi dari sila tersebut berubah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa.” Penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah karena para pendiri bangsa Indonesia menyadari bahwa NKRI bukan hanya terdiri dari sebuah masyarakat yang homogen dalam konteks agama, melainkan terdiri dari beberapa macam agama. Hal inilah yang melandasi dirubahnya sila pertama tersebut, sehingga dari perjalanan tersebut dapat diketahui bahwa sejak berdirinya NKRI, dalam konteks agama, Indonesia bukanlah Negara yang homogen, melainkan sebuah Negara yang hingga saat ini mengakui 6 agama sah di Indonesia.

intoleransi1

Lalu bagaimana lika liku perjalanan dari toleransi agama itu sendiri di Indonesia? Dapat dikatakan bahwa perjalanan tersebut tidaklah mulus. Pada masa lalu terdapat berbagai kejadian – kejadian mengenai intoleransi dari Agama, berita mengenai adanya perselisihan antar agama bukanlah sebuah berita yang baru dan asing, terjadi beberapa peristiwa – peristiwa yang selalu memakan kalangan minoritas di berbagai wilayah negeri. Kejadian seperti pengeboman dan pembakaran rumah – rumah ibadah, kerusuhan antar umat beragama cukup sering terjadi.

Selain dalam konteks agama, ras dan suku merupakan hal yang berkaitan erat juga dengan istilah toleransi. Indonesia beragam bukan hanya dari segi agama, melainkan juga dari suku dan ras yang ada di Indonesia, mulai dari sabang hingga merauke, tersebar di berbagai pulau pulau nusantara, ada berbagai macam suku dan ras di Indonesia. Pada masa lalu toleransi dari adanya berbagai ras dan suku di Indonesia ini dapat dinilai cukup kurang, perselisihan antar suku, ras dan antar golongan merupakan berita yang sering terjadi di berbagai wilayah NKRI.

Bagaimana perkembangan selanjutnya?

peringatan-hari-toleransi-internasional-20141

Titik balik dari perjalanan toleransi di Indonesia adalah hadirnya seorang tokoh nasional yang disebut sebagai Bapak Pluralisme Abdurahman Wahid atau yang dikenal dengan sapaan Gus Dur. Gus Dur merupakan seorang tokoh yang sangat menghargai pluralisme, perjuangannya dalam mengusung pluralisme di Indonesia berdampak hingga saat ini. Dalam konteks agama, Gus Dur memiliki prinsip “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” selain itu, beliau juga mempunyai sebuah quotes “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.” Selain dalam segi agama, Gus Dur juga membuat suatu kebijakan yang dampaknya dapat dirasakan hingga saat ini, terutama bagi etnis minoritas yaitu etnis tionghoa yang sebelumnya cukup dibatasi. 2 Jasa yang diberikan Gus Dur adalah dijadikannya tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional dan Kong Hu Cu menjadi agama yang diakui oleh Indonesia. Jasa dari Gus Dur ini sangat mencerminkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Setelah hadirnya tokoh Gus Dur, bagaimana perkembangannya hingga sekarang?

Perjalanan dari Toleransi memang bukanlah hal yang mudah, banyak sekali tantangan tantangan bagi bangsa yang sangat beragam seperti Indonesia dalam konteks toleransi. Saat ini dalam segi ras, suku ataupun etnis, toleransi di Indonesia dapat dinilai cukup bagus, tidak terjadi perselisihan perselisihan seperti di masa lalu. Namun dalam konteks agama bisa dibilang masih cukup kurang, peristiwa seperti pengeboman Gereja Oikumene HKBP Samarinda, Kalimantan Timur, yang menewaskan seorang balita. Sehari setelahnya, Vihara Budi Dharma di Singkawang, Kalimantan Barat juga mendapatkan serangan serupa. Gereja Katolik Paroki Gembala Baik di Kota Batu, Malang, pun mendapatkan ancaman bom dan pembubaran natal di Bandung 6 Desember lalu sangat menodai toleransi di Indonesia.

Meskipun demikian dalam skala nasional, toleransi tidak di cap jelek juga, sikap pencorengan terhadap toleransi hanya dilakukan oleh sebagian kecil kelompok. Terdapat juga cerita cerita toleransi yang cukup menyejukkan hati untuk di dengar, seperti adanya doa bersama yang dilakukan oleh pemuka agama dari agama yang berbeda, kisah kisah toleransi beragama yang ada saat hari raya agama juga tidaklah sulit untuk ditemukan. Hal ini juga membuktikan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya buruk dari segi toleransi, karena jika dalam konteks agama, tidak ada agama yang mengajarkan untuk melakukan perbuatan seperti membunuh, mengebom dan sebagainya.

Dalam menjaga kesatuan dan persatuan dari NKRI, sikap toleransi sangat penting untuk dimiliki oleh seluruh komponen bangsa baik itu dari segi pemerintahan maupun masyarakat, jika ada aksi aksi intoleransi, pemerintah harus tanggap untuk mencegah maupun mengatasinya agar tidak berkembang meluas, karena dapat membahayakan kesatuan bangsa. Begitu juga dengan masyarakat, harus menanamkan sikap toleransi yang baik dan tidak mudah terprovokasi oleh sebagian kelompok kelompok yang ingin merusak atau menjatuhkan bangsa Indonesia. Indonesia adalah Negara yang sangat plural terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan budaya, sehingga sebagai rakyat Indonesia mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa adalah kewajiban bagi setiap warga Negara, dalam konteks ini memilki sikap toleransi adalah suatu keharusan, sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yang ada di lambang Negara, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda beda tetapi tetap satu jua.

nkri-harga-mati-transparant-57b3a4d2e9afbd560c1582ab

“NKRI Harga Mati”

Steven Willy Sanjaya
155150200111198

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s